Ayo Jauhkan Diri Dari Riba


Riba berasal dari Bahasa Arab yang artinya bertambah, berkembang, meningkat atau membesar. Secara maknawi berarti penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman yang di bebankan kepada peminjam berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok. Sementara menurut Muhammad Asy Syirbiniy, definisi riba ialah;

Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya.” (Mughni Al-Muhtaj, 6: 309)

Perintah Menjauhi Transaksi Riba

Saat ini kita telah melihat banyak sekali terjadi transaksi yang di anggap memberikan pertolongan dan kemudahan namun sebenarnya disitulah terjadi praktik riba. Mayoritas dari kita berdalih hal semacam ini memberikan banyak manfaat bagi pelaku di dalam usaha mereka maupun transaksi-transaksi lain sehingga tidak mungkin untuk di tinggalkan. Keadaan semacam ini telah di isyaratkan oleh Nabi SAW, “akan datang suatu zaman di tengah-tengah umat manusia, mereka meminum khamr dan mereka menamainya dengan selain namanya.”

Bukankah Allah telah melarang segala transaksi riba, Allah berfirman di dalam Q.S. Al Baqarah 276

Artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

Bahkan Rasulullah SAW menjelaskan dosa riba yang paling ringan adalah seperti menzinai ibu kandungnya sendiri. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Riba itu ada tujuh puluh dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, no. 2274. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Jika kita telah mengetahui hal ini, lantas bagaimana kita masih menghalalkan riba di setiap transaksi kita?. Begitu jelas dalil-dalil yang melarang transaksi riba. Lalu apakah manfaat yang tersisa bagimu jika makanan, minuman serta pakaian yang di peroleh berasal dari yang haram. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan,

“Ada seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a,

Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1014)